Selasa, 26 Februari 2013

Valentine Yaya


10 Februari 2013

Menyukai itu disaat kita begitu menginginkannya,mencintai itu disaat kita ingin memberikannya, dan menyayangi itu disaat kita mau berkorban untuknya.
Siang ini terlihat tidak bersahabat seperti siang di bulan Januari, siang Februari terlihat lebih mendung semendung suasana hati ku, teman teman di kelas sibuk dengan topik pembicaraan mereka mengenai hari Valentine hari bersejarah menurut kaum muda dimana mereka saling bertukar hadiah dan mengungkapkan perasaan di hati mereka.

“ Yaya apa kabar kamu ? diem aja dari tadi “ salah satu teman ku, Ais menyapa ku dengan girang
“ Baik , kamu apa kabar ? “ jawab ku
“Baik dong sebaik hari Valentine, kamu udah ada rencana ? “ Ais begitu terlihat antusias
“ Gak deh kurang tertarik “ singkat ku timpali

Rencana Valentine mana mungkin terjadi, Adit pasti sibuk dia kan udah ada janji tanggal 14 Februari sama para pendaki, Valentine pasti sama kaya tahun lalu, coba aja Adit pacar ku lebih romantis sedikit aja, dia kan bisa ngasih boneka keropi yang lucu atau puisi yang bikin hati ku meledak ledak atau apalah, ah Adit dasar aku cuma bisa mendesah sudah terbiasa dengan sikap dingin Adit prioritas utamanya cuma mendaki mendaki dan mendaki.
Siang ini ku habiskan dengan satu judul novel yang tebal, malas rasanya harus keluar kelas atau sekedar membeli makanan ringan, hari ini aku malas bertemu Adit mungkin dia sekarang sedang sibuk di kelasnya memikirkan rencana mendaki nanti, liat aku sekali aja Dit aku juga pengen kaya cewek lain kencan sama pacarnya, kita gak usah kencan lah bercanda sama kamu aja udah cukup ko.

“Dorrrr “ seseorang mengagetkan ku dari samping dengan keras
“Woy ish apa apaan sih “ dengan kesal ku lempar orang itu dengan novel setebal dua ratus halaman
“Kamu serem amat sih Ya “ Adit menggoda ku dengan enteng nya
“Apaan sih kamu gak ada kerjaan godain Yaya “ Ku pasang wajah cemberut
“Adit kan kangen Yaya, tadi Adit gak liat Yaya keluar jadi Adit kesini deh “ Riang Adit menjawabnya
“Ah Adit basi, Yaya lagi males ketemu Adit mendingan Adit ke kelas aja deh”
“ Yaya kok judes amat sih sama Adit, wajahnya jelek tuh cemberut gitu “ Adit mengeluarkan sesuatu dari kantong celana SMA nya, ia bidikkan handphone ke wajah ku dan memotretnya, sontak aku marah pada Adit jelas saja wajah ku sedang jelek jeleknya, aku mengejar Adit keluar kelas kami berlari di koridor sekolah orang orang yang melihatnya hanya menertawakan kami beberapa guru sempat memarahi kami tapi tak menjadi penghalang,di taman sekolah aku berhasil menangkap ponsel Adit ku pukul lengannya berkali kali.

“ Tuh kan pacar Adit kalo lagi senyum manis banget “ Adit menempelkan ponselnya di pipi ku ia membandingkannya dengan wajah ku yang sekarang sedang tersenyum, ia tertawa dan mengacak acak bagian depan rambut ku
“ Adit issh rambut Yaya berantakan nih “ aku merengek manja pada Adit, Adit Cuma menggerakan pundaknya dan berjalan meninggalkan ku dasar Adit, emangnya aku boneka yang bisa dia apain aja udah bosen ditinggalin deh,semoga aja aku jadi boneka kesukaan Adit yang selalu Adit peluk atau selalu Adit bawa kemanapun Adit pergi tapi Adit bukan anak kecil yang suka bawa boneka mungkin aku Cuma sebuah bunga yang bisa Adit lihat jika mekar dan Adit tinggalkan jika layu, Aku Cuma pengen jadi seseorang yang Adit lihat bukan yang Adit kesampingkan

12 Februari 2013

Udah dua hari aku gak ketemu Adit, dia gak ke kelas gak keliatan di Ruang sekretariat OSIS, dia gak ada di sekolah, Adit kemana aku kangen Adit atau Adit udah pergi mendaki, biasanya kalo pergi Adit pasti bilang, rasa khawatir bercampur kesal melanda ku makin hari tingkah Adit aneh aja, dengan gamang ku langkahkan kaki ke taman belakang aku menangis disana ku tutupi wajah ku dengan kedua tangan ku, aku takut Adit kenapa kenapa disana, aku kesel kenapa Adit gak bilang kalo Adit mau pergi dia kan bisa telfon aku kalo males liat wajah ku, atau sms aku kalo malas dengar suara aku Adit kemana...
“Yaya Kok nangis ? “ suara yang begitu ku kenal, aku mendongak menatap suara yang dimiliki Adit mata kami saling beradu ada sedikit ke khawatiran dan penyesalan nampak jelas di mata Adit aku dapat menemukan itu.
“ Yaya kenapa nangis ? “ Adit kembali bertanya padaku, ku gelengkan kepala Adit, menghampiriku dan duduk di sampingku.
“Yaya kalo ada masalah bilang dong ke Adit, jangan nangis sendirian gini “ Adit berusaha menghiburku
“ Adit kemana aja, Yaya nyariin Adit gak ketemu ketemu, Yaya takut Adit ninggalin Yaya, Yaya kesel kenapa Adit gak hubungin Yaya selama dua hari ini, Yaya juga punya hati Yaya bukan mainan Adit yang bisa Adit tinggalin kapan aja, disaat semua pasangan sibuk buat hari Valentine Adit malah mau ninggalin Yaya “ ku muntah kan semua amarah ku tanpa memikirkan yang terjadi di kemudian
“ Maafin Adit, Adit kan nyiapin persiapan buat kepergian Adit, pendakian kali ini agak jauh Ya, Adit kalo pergi pasti bilang ke Yaya dan masalah hari Valentine Adit punya kejutan ko buat Yaya“ Jawab Adit menenangkan
“Hari ini kita kencan yah, Adit udah lama gak maen sama Yaya “
“Jadi kejutannya Cuma kencan, hari ini gitu ? bukan hari Valentine ? “
“Yaya sejak kapan sih jadi cerewet”Adit meraih tangan ku meninggalkan taman belakang, kebetulan sekali hari ini jam pelajaran sekolah hanya berjalan setengah hari karena ada rapat guru, Aku dan Adit memutuskan pergi main tanpa memikirkan beban yang menggelayut di pikiran kami masing masing, Adit terlihat manis hari ini ia membelikan ku topi rajutan berwarna biru abu abu ia memakaikannya, ia bilang hitung hitung menebus permintaan maafnya karena sudah membuat ku menangis tadi, sebagai gantinya aku membelikan kaos tangan berwarna coklat cream sebagai tebusan karena aku sudah memarahinya tadi, kami tertawa di sepanjang jalan ada saja kelakuan Adit, ia mengeluarkan ponselnya dan memotret ku yang sedang menggunakan topi rajutan pemberiaanya, aku tak mau kalah aku mengeluarkan ponsel ku dan memotret Adit yang sedang menggunakan kaos tangan pemberian ku kami pun berfoto bersama, kami sedang duduk berdua di pinggiran jalan menunggu Angkutan Umum karena hari sudah terlihat sore.
“ Yaya kalo Adit pergi jangan cengeng dong jangan nagis di taman belakang, kalo adit gak nelfon Yaya, Yaya jangan marah atau cemberut Yaya keliatan jelek tau “ Adit membuka pembicaraan
“Iya Yaya janji, tapi kan Yaya juga manusia masa Yaya gak boleh nangis “ bantah ku
“ Pokoknya selama Adit pergi Yaya harus percaya sama Adit, Adit kan sayang Yaya “ ia meraih tangan ku dan menggenggamnya erat,ia membisikkan sesuatu “ Aditya Wibawa sayang Zahrana Tyara” aku tertawa geli mendengarnya kubalas dengan senyuman yang mungkin bisa membuat Adit senang.
Hari yang Adit tunggu tunggu dan hari yang paling ku benci karena harus memendam rindu pada Adit telah tiba, aku mengantar kepergian Adit seperti yang biasa ku lakukan saat Adit hendak pergi mendaki, kali ini aku merasa Adit terlihat aneh di sepanjang jalan ia terus memegang tangan ku ia selalu menatap mataku dengan dalam, ia bungkam bicara dan hanya memberikan senyum nya yang selalu terlihat menawan di mataku.
“Yaya jaga diri ya, Adit pasti kangen Yaya “ ia mengacak acak poni depan ku
“Adit juga jangan lupa pakai jaket terus hati-hati disana selalu kabarin Yaya, satu lagi kalo nanti pulang Yaya pengen oleh olehnya bunga edelwies kan romantis Dit“ aku tertawa renyah, Adit mendekati ku, ia mengecup dahi ku dan meninggalkan ku, mobil yang membawa Adit pergi sudah tak terlihat lagi, hari hari di sekolah harus kembali ku lewati tanpa Adit, sebuah sms masuk ke dalam ponsel ku
Inbox : Radit :*
Believe when I left you and do not return, my heart remains with you like a flower that symbolizes eternity edelwies relationship, Yakinilah  jika aku pergi meninggalkan mu dan tak kembali,hati ku masih tetap bersamamu seperti sekuntum bungan edelwies yang melambangkan keabadian.
Aku tersenyum, Adit belajar romantis dari siapa sih cepet pulang ya Dit.

13 Februari 2013

Aku masih bertukar kabar dengan Adit ia mengirimkan bebarapa fotonya yang sedang mendaki ia menggunakan kaos tangan pemberian ku, selalu saja ia bisa membuat ku tersenyum walau kini berjauhan, setiap satu jam ia selalu memberi ku kabar baik berupa sms atau foto, sedikit rasa rinduku terobati karena Adit tidak melupakan ku, ia selalu menanyakan kabar ku, selalu mengingatkan ku minum susu atau mengerjakan tugas sekolah, bisa di bilang ia lebih perhatian jika sedang jauh dan satu lagi ia selalu bertanya sedang dengan siapa aku, dan melarang ku main kecuali dengannya atau keluarga, ternyata Adit punya rasa cemburu...
Malam ini hujan begitu deras beberapa petir ikut hadir menemani hujan, Adit mengirimkan sebuah foto padaku latarnya langit berwarna Orange ia bergaya sambil memegang sekuntum bunga edelwies, terdapat keterangan dalam foto itu.
“ Adit kasih bunga edelwies buat Yaya, semoga cinta kita abadi yah “ aku tertawa membaca keterangan foto itu, makin hari Adit makin romantis perkataannya selalu dapat menggelitik hatiku, saat hendak ku balas selalu saja gagal, mungkin operator sedang eror atau disana tidak ada sinyal aku mendesah semoga Adit selalu dalam keadaan baik disana !

14 Februari 2013

Hari ini hari Valentine semua pasangan sibuk saling bertukar hadiah atau menyusun rencana kencan mereka malam ini, Adit sedang apa ya, dia gimana keadaannya apa di hutan ada cewek cantik. Sudah beberapa jam Adit tidak menghubungiku kami kehilangan kontak semenjak tadi malam, aku tidak merasa cemas karena sudah pasti sinyal di tempat Adit jelek, walau aku mencoba menghubunginya itu semua sia sia.
“ Yaya lagi galau nih “ Ais menggoda ku
“Iya nih, Adit gak ngasih kabar “
“ Sabar ya, mungkin sinyal nya eror tau sendirikan di gunung susah sinyal “ Ais menenangkan ku
“ Iya aku ngerti ko “
Aku benar benar cemas sekarang, sudah hampir dua puluh jam Adit tidak menghubungi ku, rasa cemas besar menghantui ku, beberapa bayangan berkelebat di pikiran ku, semoga semua itu tidak terjadi.
“ Kak Yaya “ suara adik ku memanggil dengan keras
“ Apa dek ? “
“Sini Kak, cepet ! “ aku bergegas menghampiri adik ku yang sedang menonton televisi di ruang tengah,ia menunjuk berita yang sedang di siarkan di televisi, aku bertanya tanya apa yang di maksud adik ku dan betapa terkejutnya aku...
“ Sepuluh orang pendaki di temukan dalam keadaan mengkhawatirkan di sebuah Gunug, tiga orang meninggal dan tujuh orang selamat di sertai luka luka parah, tiga orang yang meninggal diantaranya satu orang pekerja swasta bernama M.Hamzah dan dua orang lainnya seorang siswa SMA Harapan Bangsa bernama Rizkiawan dan Aditya Wibawa menurut penuturan salah satu korban mereka mengalami kegagalan mendaki karena cuaca yang sangat buruk“ aku terhenyak bagaikan ditampar angin topan, tatapan ku nanar dan sejurus kemudian gelap.
Aku melihat bayangan Adit ia mendekati ku namun ia tak berani menyentuh ku, ia hanya tersenyum dan setelah itu pergi meninggalkan ku, aku mengejarnya namun Adit hilang ditelan kegelapan,dan seberkas cahaya menyilaukan mataku, ternyata lampu kamar delapan watt sedang menerangi ku. Ayah dan Ibu duduk menatap ku yang baru siuman sudah tiga jam aku pingsan, sejurus kemudian aku ingat berita itu aku bangkit dari tempat tidur ku, kedua orang tua ku menahannya, Ibu memeluk ku dan berusaha menenangkan ku Ayah memegang pundak ku, aku menangis tersedu sedu di pelukan Ibu,Hari kasih sayang ku lewati dengan kepergian seseorang yang begitu ku sayangi.
Dengan hati yang begitu rapuh ku taburkan bunga di atas makam Adit,Tak pernah terpikir hari itu pertemuan terakhirnya dengan Adit, aku mulai mengerti maksud sms Adit, genggaman tangan yang begitu erat dan tatapan mata yang begitu dalam itu semua adalah untuk yang terakhir, aku menangis tersedu sedu beberapa slide kenangan ku bersama Adit berkelebat, Adit janji bakalan pulang tapi Adit ninggalin Yaya...
“Yaya yang sabar ya “ Kak mira kakak Adit menenangkan
“Aku kangen Adit “ terbata bata aku mengucapkannya
“ Yaya tau gak ? waktu Adit ditemukan ia pegang Bunga Edelwies, kakak tau bunga itu pasti buat Yaya, Adit juga pasti kangen Yaya Cinta Adit buat Yaya sama kaya Bunga Edelwies itu“ kak mira menuturkan dengan jelas
“Yaya Sayang Adit “
“Kalo Yaya sayang Adit Yaya harus bisa bersikap bijaksana, karena menyayangi it disaat kita mau berkorban untuknya, biarkan Cinta Yaya abadi seperti bunga edelwies ini “
Sore itu selepas pemakaman Adit, aku duduk di taman belakang sekolah tempat dimana biasanya aku dan Adit bercengkrama,ku pegangi bunga edelwies pemberian Adit aku tau maksud Adit memberikan bunga itu, Adit mau semua kenangan aku dan Adit selalu abadi, aku janji gak bakalan cengeng kalo Adit pergi.
Bunga Edeelweis di hari Valentine adalah sebuah bukti bahwa Adit selamanya buat Yaya.
Mungkin ini yang di maksud dengan sebuah kejutan di hari Valentine, Bunga Edelweis untuk Hari Valentine Yaya.